MEWUJUDKAN KEADILAN DALAM BERGEREJA

MEWUJUDKAN KEADILAN DALAM BERGEREJA

(Sebuah Kajian Humaniora)

 

Oleh

[i]Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, MA.

Menurut Plato, keadilan dimaknai sebagai seseorang membatasi dirinya pada kerja dan tempat dalam hidupnya disesuaikan dengan panggilan kecakapan “talenta” dan kesanggupan atau kemampuannya. Keadilan diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dapat dikatakan adil adalah seseorang yang mampu mengendalikan diri dan perasaannya oleh akalnya (Plato 427-347 SM). Jauh sebelum lahirnya demokrasi modern, konsep keadilan telah lama berkembang dan hingga saat ini belum pernah terwujud secara sempurna, termasuk dalam kehidupan bergereja.

Menurut Plato, untuk mewujudkan keadilan adalah dengan cara mengembalikan masyarakat pada struktur aslinya, dimana metode untuk mewujudkan keadilan ini adalah dengan mengembalikan masyarakat pada struktur aslinya, misalnya jika seseorang sebagai guru baiklah tugasnya hanya mengajar saja, jika seseorang sebagai prajurit baiklah tugasnya hanya menjaga kedaulatan negara, jika seseorang sebagai pedagang baiklah tugasnya hanya dibidang perniagaan saja. Jika seseorang sebagai gubernur atau presiden baiklah tugasnya hanya untuk memimpin negara dengan adil dan bijaksana. Pendapat ini sejalan dengan Roma 12:7 yakni: “Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar”, bukan dibolakbalik atau dicampuradukkan.

Metode berikutnya adalah Gereja sebagai organisasi dapat melakukan pengawasan terhadap fungsi struktur organisasi gereja untuk mengembalikan jemaat pada struktur aslinya sehingga mampu menciptakan stabilitas, dan tidak terjadinya penyimpangan struktur organisasi. Pada keadaan demikian, keadilan bukan mengenai hubungan antara individu, melainkan hubungan antara individu dengan organisasinya. Ada istilah yang lahir dalam kehidupan bergereja yakni “Organisasi gereja adalah tempat untuk memberi, bukan untuk menerima. Ada juga motto yang berkembang di USA yakni “jangan tanyakan apa yang dapat diberikan gerejamu kepadamu, namun tanyakan!, apa yang dapat engkau berikan kepada gerejamu?” artinya kekaryaan dan karya seseorang harusnya dapat dipersembahkan untuk gereja sesuai dengan karya talenta dan karunia hidupnya. Konsep ini sejalan dengan Roma 12:1 yang berbunyi “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”.

Gereja yang hidup adalah gereja yang jemaat-jemaatnya mampu menjadi berkat dan terang bagi sesamanya, namun demikian peran pemimpin juga sangat menentukan kehidupan bergereja. Keadilan dapat juga diwujudkan dengan memilih pemimpin dari putra terbaik dalam masyarakat gereja, sebaiknya tidak dilakukannya melalui pemilihan langsung atau “voting”, melainkan dengan kesepakatan tertentu sehingga dapat ditentukan pemimpin yang benar-benar “manusia super” dari masyarakat tersebut, yang juga berarti yang memimpin gereja seharusnya manusia super “the king of philosopher” karena keadilan juga dipahami secara metafisis keberadaannya tidak dapat diamati oleh manusia. Konsep ini mengakibatnya terjadi pergeseran konsep keadilan kepada dunia lain di luar pengalaman manusia, dan akal manusia yang esensial bagi keadilan yang harus tunduk pada cara-cara Tuhan yang keputusanNya berlaku absolute atau tidak bisa diubah dan tidak bisa diduga. Ayat yang tepat untuk melihat konsep ini adalah Kisah Para Rasul 14:23 yang berbunyi “Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka”. Sangat jelas dikatakan, bukan memilih/voting tetapi menetapkan. Tentu saja penetapan seorang pemimpin, apalagi seorang pemimpin gereja mesti harus tetap berpadanan dengan Tata Gereja yang semestinya berpadanan juga dengan Alkitab sebagai hukum yang dapat dipertanggungjawabkan secara sorgawi maupun duniawi.

Bagaimana keadaan kehidupan masyarakat gereja yang adil?. Keadaan kehidupan masyarakat yang adil akan terlihat jika struktur yang ada dalam masyarakatnya dapat menjalankan fungsinya masing-masing, dan elemen-elemen prinsipal dalam masyarakat tetap dapat dipertahankan, elemen-elemen dasar tersebut adalah: (1) adanya pemilahan tugas dan fungsi yang tegas dalam masyarakat gereja, para pemimpin dalam masyarakat harus diisi oleh orang-orang yang memiliki kecakapan untuk menjadi pemimpin dan kesanggupan untuk memimpin dengan adil. (2) adanya pengawasan yang ketat atas dominasi serta kolektivitas kepentingan-kepentingan kelompok tertentu dalam masyarakat gereja sehingga fungsi-fungsi masyarakat gereja tetap berjalan sesuai struktur aslinya. (3) kelompok pada golongan penguasa (rohaniawan) tidak berpartisipasi atau turut campur dalam aktivitas perekonomian, terutama dalam mencari penghasilan, namun kelompok tersebut tetap memiliki otoritas yang kuat atas semua tri panggilan gereja, sehingga  dalam hal ini gereja harus “self-sufficient” atau mandiri jika tidak demikian, para rohaniawan akan bergantung pada para pedagang atau justru para rohaniawan itu sendiri menjadi pedagang. (4) Harus ada sensor terhadap semua aktivitas intelektual kelas rohaniawan, dan propaganda terus-menerus untuk menyeragamkan pikiran-pikiran mereka sehingga kesatuan dalam masyarakat gereja tetap dapat dipertahankan artinya kontrol sosial berjalan dengan baik.

Untuk apa seseorang mesti bergereja?. Satu jawabannya adalah untuk mencapai tujuan akhir. Menurut Aristoteles (384-322 BC), tujuan tertinggi sebagai makna terakhir hidup manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia) karena apabila sudah bahagia, seseorang tidak memerlukan apa-apa lagi. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang baik pada dirinya sendiri. Kebahagiaan akan bernilai bukan karena demi nilai lain yang lebih tinggi, melainkan karena demi dirinya sendiri. Semua tujuan yang lain bermuara pada kebahagiaan sebagai tujuan terakhir. Keadaan manusia yang telah mencapai tujuan akhir adalah mereka telah memiliki kebijaksanaan, hidup sempurna dengan mencintai kebenaran-kebenaran abadi, mampu merasakan cukup dalam sagala hal atau tidak rakus dan tamak. Unsur kebijaksanaan adalah unsur tujuan akhir yang paling utama. Keadaan manusia yang hidup dalam berkeutamaan ”arete” mampu bertindak adil dan berani, melakukan tindakan yang telah dijanjikan atau ”satya wacana”  dan melaksanakan kewajiban sesuai dan berkaitan dengan janji serta melakukan semua tindakan yang harus dapat dipertanggungjawabkan. Unsur berkeutamaan adalah unsur kedua dalam tujuan akhir manusia.

Kehidupan bergereja yang menjadi berkat dan terang adalah tatkala jemaatnya hidup mampu merasakan kenikmatan atau rasa senang, karena menikmati rasa senang merupakan buah hasil hidup berkeutamaan artinya orang yang baik akan senang hidupnya. Unsur rasa senang adalah unsur ketiga dari tujuan akhir hidup manusia. Keadaan jemaat yang hidup memiliki banyak sahabat, sehat jasmani dan rohani atau tidak sakit-sakitan, memiliki kekayaan yang cukup (jika orang hidup dalam kemiskinan maka tidak bahagia), dan keadaan manusia yang telah mencapai tujuan akhir juga ditunjukkan bahwa manusia tersebut dipenuhi keberuntungan serta nasib baik dan selanjutnya unsur ini disebutkan sebagai unsur turunan atau tambahan dari tiga unsur lain  di atas yakni, kebijaksanaan, berkeutamaan, dan rasa bahagia (sukacita).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tidak mampu mewujudkan tujuan akhir tatkala seseorang: (1) memiliki ambisi yang berlebihan: karena tujuan akhir manusia adalah kebahagiaan, dan kebahagiaan tersebut terpusat pada diri sendiri dan sangat subyektif serta bersifat relatif bagi setiap manusia, jika manusia tidak mampu mengontrol ambisi diri yang berlebeihan maka seseorang tidak mampu bersikap adil, selalu merasa kurang, tidak pernah merasa puas diri, dan akhirnya seseorang manjadi sangat rakus dan tamak dan pastinya dia tidak akan mendapatkan kebijaksanaan tersebut. Artinya jika penafsiran kebahagiaan bersifat subyektif maka manusia tidak mencapai tujuan akhir kebahagiaan karena mereka tidak pernah ”merasa” bahagia. (2) terlalu mementingkan diri sendiri: kebahagiaan ala Arestoteles, menurutnya dapat dicapai pada saat manusia masih hidup dan sifat dari kebahagiaan tersebut bersifat amanen atau duniawi. Kontemplasi dalam pemikiran Aristoteles tidak berarti pertemuan atau persatuan dengan sesuatu di luar atau di atas manusia, melainkan pemenuhan bakat atau kemampuan manusia yang paling tinggi, kemampuannya untuk melakukan kegiatan yang sifatnya mencukupi pada dirinya sendiri (self-sufficient) artinya seseorang bisa terjebak pada hal-hal yang bersifat mementingkan diri sendiri untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut, jika manusia terjebak pada sifat mementingkan diri sendiri seseorang akan dengan mudah tidak memenuhi janji-janji yang pernah dikontrakkan atau  dikrarkan dan cenderung berpihak pada hal-hal yang dapat menguntungkan dirinya sendiri. Pada saat inilah seseorang tidak dapat merasakan kebahagiaan. (3) sakit-sakitan, kurang bisa bergaul, hidup miskin, kurang beruntung: Ironis sekali, Arestoteles memandang kebahagiaan juga dapat digambarkan bahwa seseorang yang sakit-sakitan tidak akan merasa bahagia, orang yang tidak memiliki banyak teman akan merasa tidak bahagia, orang yang kehidupannya miskin tidak akan merasa bahagia, dan seseorang yang sering mendapat musibah atau bencana atau kurang beruntung dianggap tidak akan merasa bahagia. Artinya tujuan akhir manusia tidak akan tercapai jika mereka sakit-sakitan, tidak banyak teman, miskin, atau bernasib buruk karena dalam kondisi seperti ini tidak mungkin seseorang merasa bahagia. Bagian ketiga dari tujuan akhir ini mungkin dapat menimbulkan perdebatan yang sengit, namun ini adalah sebuah kenyataan yang telah ada sejak manusia ini dijadikan. Konsep ini telah melahirkan beberapa motto hidup seperti misalnya “uang bukan segala-galanya, namun segala-galanya perlu uang”, “teman adalah orang yang selalu ada pada kesulitan yang kita alami”, “seseorang yang berlimpah harta bendanya dapat membeli obat bahkan rumah sakit semahal apapun, namun dia tidak pernah mampu membeli kesehatan itu”.

Peran gereja kekinian semestinya dapat diarahkan untuk mewujudkan keadilan bermasyarakat gerejanya walaupun gereja itu sendiri tidak pernah mendapatkan keadilan dari masyarakat yang heterogen ini. Makna lainnya adalah bahwa gereja tidak gampang meniru cara-cara duniawi untuk mengatur tatakelola kehidupan bergereja. Untuk dapat mewujudkan kehidupan bergereja yang adil, semestinya pemimpinnya adalah seseorang yang tidak memiliki ambisi yang berlebihan, tidak mementingkan diri sendiri atau golongannya, dan juga sehat secara jasmani, mental, dan rohani pastinya. Alangkah baiknya jika kehendak sorgawi dapat tercapai dan terwujud dalam kehidupan bergereja seperti doa yang setiap hari kita ucapkan “jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga”. Struktur masyarakat gereja yang mengerti dan menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan talenta dan karunia, sesuai dengan tugas panggilan yang diberikan baik secara formal maupun informal. Tulisan ini tidak memiliki tendensi pada objek dan subjek seseorang tetapi menyajikan sebuah konsep keadilan yang telah lama dilupakan dalam usaha untuk mewujudkan makna sebuah keadilan dalam kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat.

 

[i] Penulis adalah Dosen Tetap pada Fakultas Ekonomika dan Humaniora dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Dhyana Pura, berdomisili di Desa Sading, Mengwi, Badung. dan berjemaat di GKPB Jemaat Kudus Sading.

About raiutama

igustibagusraiutama@gmail.com
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s