KALAU BISA BACA SAMPAI HABIS

Image may contain: one or more people
Image may contain: one or more people and people sitting
Image may contain: 1 person, outdoor

 

 

 

 

Dimas Aditya

KALAU BISA BACA SAMPAI HABIS

Kematian pasangan suami isteri di Magelang dirumahnya tanpa diketahui orang lain selama lebih kurang 1 minggu.. ini memberikan pelajaran bagi kita sbg anak.. rawatlah orang tua bersama kita di saat masa tuanya atau kalau mereka tidak mau dan tetap ingin hidup di rumah mereka sendiri.. hubungilah mereka setiap hari.. kalau tinggal satu kota.. kunjungilah mereka setiap hari..

Sedih dan haru membaca berita ttg kematian pasangan suami isteri dibawah ini..

Kemarin sore seorang teman menunjukkan sebuah foto yang ada di WA RT-Nya, wilayah Mungkin Magelang. Mayat dua orang sepuh yang sudah membengkak, menghitam dan mulai berair. Saya hanya melihat sekilas karena tidak punya cukup nyali memandangnya lekat.

Jenasah kakek nenek itu ditemukan beberapa hari setelah kematiannya oleh menantu dan tetangga. Tak ada yang tahu persis kapan mereka berdua wafat. Kata polisi kemungkinan sudah seminggu berlalu. Mereka meninggal tanpa kata, tanpa pamit dan yang pasti tanpa didampingi oleh anak, menantu dan cucu-cucunya.

Bukan karena mereka tak punya, namun tak ada satu pun anak yang bisa menemani dan merawat mereka di hari-hari tuanya. Anak-anak mereka tinggal di luar kota.

Lelaki sepuh itu akhirnya meninggal dalam keadaan duduk bersandar pada kursi kayu di ruang tamunya.

Lelaki itu sehari-harinya adalah suami yang merawat istrinya yang stroke dan sudah tidak bisa beraktivitas apapun kecuali berbaring di tempat tidur. Polisi memperkirakan kematian lelaki sepuh ini terjadi lebih dulu. Istrinya menyusul wafat kemudian, banyak orang mereka-reka : sang istri meninggal karena selama berhari-hari tak makan minum atau melakukan aktivitaslainnya, karena sang suami yang selama ini menjadi satu-satunya ‘perawat’ terlebih dahulu meninggal dunia.

Bisakah anda bayangkan keadaan mereka berdua ?
Saat sang istri memanggil suaminya berkali-kali dalam resah namun tak ada jawaban apapun. Resah bukan saja karena ia sendiri merasa lapar, sakit dan tak berdaya. Namun mengkhawatirkan keadaan belahan jiwa namun tak bisa berbuat apa-apa karena badan tak lagi bisa digerakkan stroke menahun.

Sang suami juga tak bisa mengabarkan siapapun untuk menggantikannya merawat istri tercinta. Kematian datang tanpa mengucapkan salam pemberitahuan. Begitu tiba-tiba dan sangat nyata.

Mereka berdua meninggal di dalam rumah mereka sendiri. Rumah yang menjadi saksi saat pernikahan mereka bermula, saat mereka melahirkan anak demi anak. Membesarkan anak-anak mereka dari bayi merah, hingga akhirnya bisa merangkak perlahan, berjalan, berlari … dan akhirnya pergi sendiri-sendiri menapaki jalan takdirnya.

Menjadi orang tua memang adalah jalan panjang untuk melepaskan seorang anak agar mampu menjalani kehidupan mereka sendiri…. karena itulah mengapa kisah pengasuhan anak menjadi rumit. Karena pengasuhan telah melibatkan berjuta ragam emosi dan kenangan. Anak-anak lahir dari Rahim ibunya, membawa DNA bapaknya, besar dengan keringat dan airmata orang tuanya : Namun bukan milik orang tuanya.

Orang tua harus ridho melepaskan anaknya menjalani peran kehidupannya sendiri, suatu waktu. Bahkan saat sang anak memutuskan untuk pergi mengembara menggapai mimpi-mimpi mereka
Dan bagi orang tua, ternyata berpisah dengan anak itu bukan urusan mudah.

Meski teknologi membuat kita bisa menatap wajah keriput mereka di layar HP, ternyata tak ada yang bisa mengobati rindu sebaik dekapan hangat dan ketulusan cinta. Sebanyak apapun uang tak akan bisa membeli perhatian, senyuman, dukungan dan pelayanan tulus.

Saya menuliskan ini bukan hendak menyalahkan si anak atau keluarganya, saya pun tak tahu persis apa kesulitan mereka. Saya hanya ingin menuliskan catatan untuk diri saya sendiri.

Mereka adalah pintu surga yang terbuka. Berbuat baik pada mereka bahkan lebih didahulukan daripada jihad. Menafkahi mereka adalah keutaamaan yang besar. Bersabar atas mereka adalah pahala yang besar dihadapan ALLAH.

Waktu berlalu, usia mereka bertambah, badan mereka makin lemah, kematian semakin mendekat. Bukan tentang kematian mereka, namun juga tentang jatah kematian diri kita. Adakah yang bisa menjamin bahwa kita bisa setua mereka dan punya waktu untuk melanjutkan mimpi yang tak ada habisnya ?

Pulanglah, ada surga yang bisa kita raih dalam bakti padanya. Pulanglah, ada berkah dan kebaikan yang besar yang akan kita dapatkan untuk memperbaiki kehidupan kita sendiri.
Pulanglah, kesempatan terbatas dan tak bisa diulang. Sempatkanlah pulang, supaya kita bisa memohon maaf atas bakti yang tak sempurna, atas semua kedurhakaan dan belum mampu kita membahagiakan mereka.
Pulanglah, karena sampai kita menjadi orang tua bagi anak-anak kita pun masih saja merepotkan mereka. Pulanglah, untuk mengucapkan terimakasih yang tak pernah cukup …

Jika mereka sakit hari ini, sungguh sakit mereka pun bisa jadi karena kita anak-anaknya. Masa muda dan kekuatan mereka berkurang untuk membesarkan kita anak-anaknya.

“Rindu itu berat, hidup dalam sepi tanpa anak cucu di akhir masa tua itu jauh lebih berat”

Sungguh tak ada orang tua yang ingin merepotkan anak-anaknya. Tak ada yang ingin sakit di masa lemahnya.
Tak ada yang ingin berhitung budi dengan anak-anaknya, mereka ikhlas.

Bukan orang tua yang sebenarnya membutuhkan anak-anaknya. Tapi justru anak-anaknya lah yang sangat membutuhkan orang tuanya. Karena sadar bahwa amal yang tak seberapa ini, dosa yang banyak ini hanya bisa lebur dengan amalan istimewa di mata ALLAH.
Salah satunya adalah berbakti pada orang tua.

Memang tak ada orang tua yang sempurna namun yang pasti bahwa setiap anak berhutang pada orang tuanya. Bukan tentang nominal angka-angka yang mereka habiskan untuk membesarkan dan mendidik kita, namun tentang cinta, ketulusan, perhatian, doa dan pegorbanan yang tak berbilang.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

RIBUT ini pangkalnya apa?

RIBUT ini pangkalnya apa? Soal Ahok? Bukan. Soal Jokowi? Bukan.

Oleh: Kang Hasan

Ini adalah soal orang-orang yang merasa bahwa Islam dan kaum muslim masih dipinggirkan. Ini adalah soal orang-orang yang menganggap orang Kristen itu musuh. Ini adalah soal orang-orang yang menganggap Indonesia sedang dan akan dikuasai Cina.

Soal Islam yang dipinggirkan, sebenarnya umat Islam itu kurang apa sih? Kementerian Agama itu hampir 100% kegiatannya melayani kebutuhan umat Islam. Lalu ada pengadilan agama, yang khusus melayani umat Islam. Ada badan amil zakat, juga untuk umat Islam.

Tahu nggak bahwa anggaran Kementerian Agama itu sebesar 62 T, nomor 3 terbersar, setelah Kementerian Pertahanan dan Kementerian PUPR? Untuk apa? Sebagian besarnya dinikmati umat Islam.

Jadi apa yang kurang? Yang kurang adalah rasa terima kasih kepada negara dan pemerintah.

Masih ada orang Islam yang belum puas kalau negara ini tidak ditata sesuai kehendak mereka. Mereka ingin pakai aturan Islam, semua dipegang orang Islam, yang non muslim jangan menonjol. Mereka tidak ingin hidup saja, tapi mereka ingin menguasai.

Lalu, ini juga soal orang-orang yang menganggap Kristen itu adalah musuh. Mereka meyakini bahwa Kristen tidak akan pernah diam, sampai mereka menguasai umat Islam. Ahok itu Kristen. Tapi Jokowi kan muslim? Jokowi difitnah Kristen. Jokowi juga difitnah komunis.

Apa salah orang Kristen? Mereka menzalimi umat Islam. Kapan? Itu waktu Perang Salib? Ha? Itu perang antara orang Arab dengan orang Eropa. Kenapa kita ikut? Mereka, orang-orang Arab itu tidak pernah peduli dengan sejarah kita, kok.

Tapi, itu penjajah Belanda kan Kristen? Oh ya? Kalau penjajah Jepang itu apa? Tahu tidak, Turki itu juga menjajah Arab. Muslim menjajah muslim. Kau menyebutnya khilafah islamiyah. Prinsipnya imperium besar, seperti gagasan yang Asia Raya yang dibawa Jepang. Bedanya, Jepang tidak menjual Tuhan mereka pada kita, atau jualan Tuhannya tidak laku.

Karena merasa terjajah itulah negara-negara Arab kemudian memberontak terhadap Turki, lalu memerdekakan diri.

Penjajahan itu soal suatu bangsa ingin menguasai bangsa lain. Ia tidak membawa kepentingan agama. Ingat, orang-orang Kristen juga berjuang melawan penjajah, untuk memerdekakan diri.

Ahok itu Cina, kata mereka. Jokowi? Jokowi juga difitnah Cina. Cina menguasai ekonomi, kata mereka. Eh, ada Bakrie, Chairul Tanjung, Kalla, dan masih banyak lagi. Mereka bukan Cina, tapi juga menguasai ekonomi. Jadi, siapa yang menguasai ekonomi? Yang bekerja keras.

Pada akhirnya, ini adalah soal orang-orang yang tidak bernalar dengan benar. Tidak paham agama, tidak paham sejarah, tidak berpikir. Bahkan juga tidak bekerja. Orang-orang yang kalah dalam persaingan kehidupan, lalu sibuk menyalahkan orang lain.

Saat orang-orang bekerja, mereka berdemo. Lha, kapan kau akan menguasai ekonomi kalau kau tidak bekerja?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Belajar menjadi manager

Belajar menjadi manager dari Prof.Rhenald Kasali.Ph.D
“Encouragement”

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.
“Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mental bukan Gelar

Tulisan bagus, yang penting Mental bukan Gelar

Dari Prof Dermawan Wibisono (TI 84, dosen SBM ITB)

Saat mendapat beasiswa ke Australia 1995, mahasiswa Indonesia sempat diinapkan 3 malam di rumah penduduk di suatu perkampungan untuk meredam shock culture yang dihadapi.

Saya bersama dengan kawan dari Thailand menginap di Balarat, di peternakan seorang Ausie yang tinggal suami istri bersama dengan anak tunggalnya. Luas peternakannya kira-kira sekecamatan Arcamanik, dengan jumlah sapi dan dombanya, ratusan, yang pemliknya sendiri tak tahu secara pasti, karena tak pernah menghitungnya dan sulit memastikannya dengan eksak.

Suatu sore saya terlibat perbincangan dengan anak tunggalnya di pelataran rumah di musim panas yang panjang, di bulan Janauari 1995.
Aussie: “Why so many people form your country take a PhD and Master degree here?”

Saya: “_Why not? Your country give a grant, not loan, for us? So, it is golden opportunity for us to get higher degree. Why you just finish your education at Diploma level, even it is free for Aussie to take higher degree?

Aussie: ” I don’t need that degree, my goal is just to get a skill how to make our business broader. Now I am starting my own business in textile and convection, so I just need the technique to produce it, not to get any rubbish degree ”

Dua puluh tahun kemudian saya masih termenung, berusaha mencerna fenomena yang terjadi di negeri ini. Begitu banyak orang tergila-gila pada gelar doktor, profesor, sama seperti tahun 1970an ketika banyak orang tergila-gila pada gelar ningrat RM, RP, GKRH.
Dan tentu orang yang berusaha mendapatkan gelar itu tak terlalu paham dengan substansi yang dikandung dalam gelar yang diisandang. Pernah dengan iseng kutanyakan kepada supervisorku di Inggris sana, saat mengambil PhD:
” Why don’t you take a professor?” tanya saya lugu kepada supervisorku yanng belum profesor padahal Doktornya cumlaude dan sudah membimbing 10 doktor baru.

Dengan serta merta ditariknya tangan kanan saya. Ditatapnya mata saya tajam-tajam.
“Look,” katanya dengan muka serius:
” ..Professor is not a status symbol or level in expertise, but professor is mentality, is a spirit, is a way of life, is a wisdom, so get it, is just the matter of time if you have ready for all requirements… But have you ready with the consequence of it?”

Dan profesor saya lebih cepat, saya dapatkan dari pembimbing saya yang arif dan bijaksana itu.

Merenungi dua kejadian itu, semakin saya sadari, bahwa Indonesia memiliki segala sumber daya untuk maju, tapi mentality lah yang menjadi kendala utama.

Social sciences dan social behaviour menjadi hal terpenting dalam study yang harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan IQ, EQ dan SQ yang tinggi. Dan celakanya, sudah lama kadung diyakini di sini bahwa ilmu eksakta lebih sulit dari pada non exacta. Dan persyaratan masuk jurusan non exacta yang di Australia butuh IELTS 7.5 dibandingkan dengan engineering yang hanya butuh 6.0, berbanding terbalik dengan yang diterapkan di sini. Akibatnya, negara menjadi amburadul karena yang banyak mengatur negara dan pemerintahan bukanlah orang yang memilki kemampuan untuk itu.

Dari mana mesti mulai membenahi hal ini?
Pendidikan dasar dan Pendidikan Tinggi. Seperti Finlandia yang pendidikannya termasuk terbaik di dunia. Guru-guru di sana merupakan profesi terhormat dengan pemenuhan kebutuhan diri yang mencukupi. Jadi guru didapatkan dari the best of class dari level pendidikan yang ditempuh. Sehingga penduduk Finlandia sudah hampir 100% memiliki degree Master. Bukan didapatkan dari pilihan kedua, pilihan ketiga, atau daripada tidak bekerja.

Melihat acara Kick Andy beberapa hari lalu: Nelson Tansu dan Basuki, sebagai tamu undangan, adalah contoh konkrit, dua orang expert Indonesia yang qualified yang bekerja di negara USA dan Swedia, dan mereka tergabung dalam 800 orang expert Indonesia yang diakui di luar negeri dan bekerja di luar negeri. Artinya Indonesia bisa, Indonesia memiliki kemampuan. Yang menjadi masalah adalah how to manage them in Indonesia environment? How we arrange them, how to make synergy between government, industry, university to bring Indonesia together to be world class?

Melihat management pemerintahan yang amburadul?
Tidak usah susah-susah menganalisis dengan integral lipat tiga segala. Lihat saja satu spek sederhana: gaji Presiden yang 62.5 juta dan gaji menteri yang 32.5 juta dibandingkan dengan gaji direktur BUMN dan lembaga keuangan yang mencapai lebih dari 100 juta per bulan, itu sudah kasat mata, bahwa menentukan gaji saja sudah tidak memperhatikan: range of responsibility, authority, impact to the Indonesia society, dan sebagainya, apalagi menentukan yang lain. Semua asal copy paste dari luar tanpa melihat esensi yang dikandungnya.

Aku termenung, mengingat pembicaranku dengan ayahanda saat kelulusanku dulu 26 tahun yang lalu. Kepada beliau kuutarakan niatku untuk merantau ke luar negeri, dan apa jawab beliau:
“Tidak usah pergi, kalau semua anak Indonesia yang pintar ke luar negeri, siapa nanti yang akan mendidik orang Indonesa sendiri?”

Kini aku tergulung dalam idealisme, aktualisasi diri, dan kepatuhanku kepada orang tua.

Hal yang paling kutakuti dalam hidup adalah jika dipimpin oleh orang-orang yang tidak sidiq, amanah, tabliq, fathonah. Dan terutama dipimpin oleh orang yang tidak lebih pandai, sehingga semuanya jadi kacau. Dan kekacauan terjadi di mana-mana, dalam berbagai level.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Terlihat Kokoh namun sebenarnya Rapuh

Ketika bangsa Cina ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar.
Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali.

Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali peperangan besar.

Pada setiap kali terjadi peperangan itu, pasukan musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang.

Cina di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia.
Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.

Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

1. Hancurkan tatanan keluarga.
2. Hancurkan pendidikan.
3. Hancurkan keteladanan dari para tokoh dan rohaniawan.

Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu-ibu agar sibuk dengan dunia luar, menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu.
Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita karir ketimbang ibu rumah tangga dengan dalih hak asasi dan emansipasi.

Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru.
Kurangi penghargaan terhadap mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya.

Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan rohaniwan/ulama adalah dengan cara melibatkan mereka kedalam politik praktis yang berorientasi materi dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai.
Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya.

Apabila ibu rumah tangga sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap dan para rohaniawan dan tokoh panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur ?
Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah.
Semuanya tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tangguh.

Diadaptasi dari tulisan Jarred Diamond,penulis yang memperoleh penghargaan Pulitzer. Dalam sebuah pidatonya Jarred pernah mengatakan bahwa negara seperti: Indonesia, Columbia dan Philipina, merupakan beberapa peradaban yang sebentar lagi akan punah.

Tidak ada kata TERLAMBAT dan masih ada waktu….

Mari kita selamatkan negeri ini dengan kapasitas masing-masing terutama diawali dari diri sendiri, lalu keluarga dan komunitas…

*Mari teruskan untuk Indonesia tercinta…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tanda-tanda Kepunahan Peradaban Bangsa

Tulisan Abdillah Toha (mantan pendiri Partai PAN) di Kolom Politik GeoTimes, Sabtu, 30 Desember 2017, dengan judul “Kaleidoskop 2017: Tahun Keprihatinan Beragama”.

Tahun 2017 segera akan lewat. Tahun ketiga pemerintahan Joko Widodo yang mulai menunjukkan hasil kerja fisiknya, namun bagi saya dan banyak Muslim lain di negeri ini terasa sebagai tahun yang menyesakkan, penuh gejolak, ujian, dan sekaligus bahan untuk merenung.

Di negeri yang indah ini umat Islam sedang menghadapi cobaan. Ada tanda-tanda mencolok banyak Muslim di sini sedang mengeras sikapnya. Agresif dan cenderung menyudutkan yang bukan seiman dan sepemahaman karena alasan yang sulit dicerna. Berlebihan waspada dan curiga karena yang di luar kelompoknya dianggap membahayakan eksistensi agamanya.

Ayat-ayat suci al-Qur’an dibaca, dikutip, dan ditafsirkan secara harfiah, di luar konteks peristiwa, tempat, dan waktu diturunkannya wahyu. Pengkafiran serta ancaman azab neraka dilontarkan kepada mereka yang tidak sependirian. Surga dimonopoli seakan hanya cukup untuk mengakomodasi mereka yang sealiran. Rasa empati, kasih sayang, dan penghormatan kepada yang berbeda mendadak lenyap dari kehidupan beragama.

Sebagian ustaz dan pendakwah ketika memegang pengeras suara menjadi galak, nyinyir, marah-marah, dan penuh kebencian. Apa sebenarnya yang sedang terjadi di negeri ini? Apa penyebabnya?

Menjawab pertanyaan ini memang tidak mudah. Ada berbagai kemungkinan atau kombinasi dari berbagai kemungkinan di bawah ini yang bisa menjadi faktor paling berpengaruh.

Pertama, selama sepuluh tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono telah terjadi lepas kendali terhadap kegiatan dan tumbuh suburnya ormas-ormas garis keras yang berkembang biak dan mencapai puncaknya pada permulaan periode Presiden Jokowi. Sikap SBY yang sering diutarakannya dengan ungkapan “one thousand friends and zero enemy” bagi politik luar negerinya, kenyataannya juga mencerminkan sikapnya di dalam negeri.

Menutup mata dan melakukan pembiaran terhadap ormas-ormas radikal menjadi bagian dari kebijakannya untuk menambah kawan dan mengurangi lawan, seperti juga kebijakannya yang tak bersedia mengurangi pemborosan ratusan triliun rupiah subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Kedua, Pemilu Presiden 2014 adalah awal dari pesta demokrasi yang tercemar oleh kampanye hitam yang memprihatinkan. Nafsu meraih kekuasaan telah mengambil alih akal sehat dengan menebar kebohongan, fitnah, dan kebencian. Masih segar dalam ingatan kita ketika calon presiden Jokowi disebut komunis, keturunan Cina, ibunya bukan muslimah dan lain-lain. Hampir saja taktik ini berhasil dengan defisit suara yang tidak seberapa, maka dilanjutkan dengan lebih intensif pada pemilu gubernur DKI dengan sukses di tahun ini.

Kali ini taktik yang serupa diterapkan tetapi dengan intensitas lebih tinggi pada fokus “pembelaan” Islam dan propaganda bahwa Islam akan tersingkirkan dari ibu kota bila seorang calon gubernur Nasrani terpilih. Suatu momentum serangan yang dengan sistematis dimanfaatkan terhadap seorang petahana yang memang tidak tertolong, sebagiannya karena kebiasaannya ceplas-ceplos tanpa mempedulikan akibatnya.

Sejak saat itu umat Islam, dan tidak terbatas hanya di Jakarta, mulai terbelah menjadi yang pro dan anti Ahok, yang merasa terancam keislamannya dan yang merasa aman, yang “membela” Islam dan yang merasa tak ada yang perlu dibela dalam keislamannya sejauh ini, yang literalis dan yang kontekstual, serta yang merasa murni serta memonopoli kebenaran dan yang berkeyakinan bahwa perbedaan dalam pemahaman Islam adalah rahmat.

Ketiga, partai oposisi sekuler Gerindra bersama partai berbendera Islam (PKS) dan belakangan didukung Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga berbasis pemilih Muslim, bergabung menyatukan kekuatan dan mengombinasikan kampanye berbagai “kegagalan” pemerintah yang berkuasa dengan sentimen agama pada Pilkada DKI lalu. Fokus kampanyenya bahwa negeri ini sedang dikuasai kekuatan asing dan aseng (baca: Cina) dengan umat Islam yang mayoritas menjadi korban dan terpinggirkan.

Akibatnya, kelompok Islam garis keras termakan oleh ilusi yang dirancang dengan sistematis, mendapat bahan masukan baru sebagai kelompok yang bukan saja merasa terancam eksistensi agamanya tetapi juga terpinggirkan kepentingan ekonominya.

Terdorong oleh ampuhnya strategi di DKI itu, ketiga partai politik itu ingin mengulang keberhasilannya dengan kembali bergabung baru-baru ini dalam koalisi untuk memenangkan Pilkada serentak 2018 di berbagai daerah, termasuk di seluruh provinsi di Jawa. Bergantung kepada hasil pilkada serentak nanti, bukan tidak mungkin kelompok ini akan menerapkan lagi taktik sentimen agama ini pada Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Keempat, kemajuan ekonomi dan meningkatnya jumlah kelas menengah secara signifikan selama satu dekade terakhir telah menciptakan kebutuhan baru. Ada kehausan kerohanian yang harus dipuaskan sehingga pengajian dan majlis zikir makin marak di mana-mana, termasuk pengajian kelas eksekutif. Akibatnya, timbul kebutuhan banyak ustaz.

Profesi ustaz kemudian menjadi menarik dengan imbalan yang menggiurkan, terutama setelah banyak contoh ustaz yang “sukses” menjadi selebriti dengan penghasilan melimpah. Maka, berbondong-bondonglah orang menjadi ustaz, termasuk yang ilmu agamanya cekak dan pemahaman Islamnya pas-pasan.

Pengajian kemudian disesuaikan dengan permintaan pasar, memberi solusi instan dunia-akhirat yang mudah dipahami, solusi hitam-putih surga-neraka. Sebab, baik sang ustaz maupun pendengarnya tak mampu menyampaikan dan menyerap lebih dari itu. Ketika itulah pemahaman agama yang tekstual bertebaran tanpa pemahaman konteks dari wahyu Ilahi yang diturunkan 1400 tahun yang lalu.

Kelima, tanpa perlu berpanjang-panjang lagi, kita semua tahu bahwa media sosial dalam era internet ini berperan besar dalam memperburuk situasi. Lebih buruk lagi ketika banyak penggunanya yang menyembunyikan identitas aslinya. Ajang perang kebencian menjadi makanan sehari-hari. Untunglah belakangan ketika pemerintah mulai sigap dan membawa beberapa lakon ujaran kebencian ke meja hijau, tampak ada sedikit keredaan dalam arena perang ini.

Keenam, dalam perang konvensional, penguasaan lapangan dan kawasan menjadi target perebutan yang berperang. Setelah kawasan dikuasai kemudian dilakukan fortifikasi guna menahan serangan musuh dan menyerang balik. Dalam perang persaingan pengaruh keagamaan di negeri kita tampaknya masjid dan mushola yang menjadi ajang perebutan. Siapa yang menguasai lebih banyak masjid, maka dialah yang akan menggaet lebih banyak pengikut. Inilah yang terjadi saat ini.

Dengan agresif dan sistematis berbagai kelompok garis keras terus mengembangkan penguasaan atas masjid-masjid dengan menyusup ke dalam kepengurusannya untuk kemudian mengambil alih sepenuhnya. Dengan begitu, merekalah yang akan menentukan siapa yang bisa tampil memberi tausiyah dan khutbah serta mengarahkan jamaah. Dengan modal ilmu agama yang minimal, mereka terlatih rajin dan berdedikasi sehingga menarik hati pendana masjid.

Bahkan masjid-masjid BUMN telah terkontiminasi dan konon mereka juga sudah masuk ke masjid-masjid TNI dan Polri. Di luar itu, Kementerian Pendidikan kita juga sudah kecolongan dengan adanya guru-guru agama beralira keras. Juga terjadi beberapa peristiwa ditemukannya buku-buku pelajaran agama yang tendensius dan bertentangan dengan ideologi bangsa. Dalam jangka panjang, kelengahan seperti ini akan berbahaya bagi kerukunan dan kesatuan republik yang kita cintai ini.

Ketujuh, kelompok garis keras ini adalah kelompok yang militan,agresif, dan berdedikasi tinggi serta terorganisasi dengan baik. Meski berulang kali kita mengatakan bahwa mereka itu minoritas, namun mayoritas yang diam dan tak terorganisasi menjadi tertinggal di belakang mereka dalam arena persaingan. Dengan penguasaan masjid serta bekerjasama dengan kekuatan politik yang membonceng, mereka memiliki kemampuan memobilisasi massa dengan cepat dan leluasa. Ini adalah salah satu kelebihan mereka yang sejauh ini tak tampak diimbangi oleh kelompok moderat.

Kumpulan massa besar-besaran di Monas yang telah beberapa kali berjalan dengan peliputan media secara luas, sedikit banyak telah pula menciptakan band wagon effect bagi mereka yang diluar kelompok menjadi tertarik untuk kemudian bergabung.

Tahun Politik

Di tahun baru 2018 yang segera datang dan pada tahun berikutnya, negeri ini akan disibukkan dengan kegiatan politik pilkada serentak dan disusul dengan pemilu presiden. Perhatian akan tercurah ke dua peristiwa itu dan rakyat akan digiring ikut meramaikannya atau memanaskannya. Bila suasana panas yang sudah mulai terasa kini berlanjut dan meningkat, negeri ini akan mengalami kerugian besar karena mengesampingkan konsentrasinya dari tugas utama negara untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.

Khusus dalam kehidupan keberagamaan yang seharusnya membawa kedamaian dan kesejukan, bila gejala tahun 2017 berlanjut dan meningkat, akan berakibat koyaknya tenunan bangsa, perpecahan antara agama, golongan, suku, dan bahkan intra-agama. Kesatuan yang diwariskan oleh para pendiri bangsa akan terancam dengan berbagai akibat yang tak terbayangkan.

Kebijakan yang antisipatif harus sudah disiapkan sejak sekarang bila kita tak ingin keadaan menjadi lebih buruk. Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang ormas anti-Pancasila yang telah disahkan menjadi undang-undang serta hukum yang mulai ditegakkan terhadap ujaran kebencian telah terbukti memberi dampak positif dengan menurunnya provokasi dan intensitas pencemaran nama baik dan fitnah di sosial media.

Ancaman hukum dan tindakan tegas kepada partai politik dan media massa yang menggunakan isu SARA dalam upaya meraih suara harus ditegakkan tanpa ragu. Media cetak dan tv agar didorong menonjolkan para ustaz dan dai yang bertanggung jawab dengan pemahaman Islam yang bersahabat.

Mayoritas diam agar dibangunkan dari tidurnya dan didoorong untuk bergiat tanpa melanggar aturan hukum untuk mengimbangi penguasaan arena oleh kelompok radikal. Ormas moderat besar seperti NU dan Muhammadiyah beserta lembaga-lembaga pendidikan di bawahnya bila perlu disokong dengan batuan langsung pemeritah untuk lebih mengintensifkan perannya dalam mewujudkan kehidupan beragama yang bermanfaat.

Dalam hubungan ini, kedua ormas besar itu agar didorong untuk lebih mengawasi masjid-masjid di bawah naungannya agar tidak jatuh di bawah kendali kepengurusan yang tidak dikehendaki. Begitu pula masjid di lingkungan BUMN dan instansi-instansi pemerintah. Masjid dan kampus agar dibebaskan dari kegiatan politik praktis.

Dalam jangka lebih panjang, perhatian agar diberikan oleh Kementerian Pendidikan pada kurikulum keagamaan serta rekrutmen guru-guru agama di berbagai sekolah. Akhirnya, semua permasalahan keberagamaan yang memprihatinkan di tahun ini sekali-kali tidak boleh dianggap enteng dan disepelekan bila kita tidak menghendaki negeri ini menjadi ajang kekacauan seperti tragedi yang terjadi di beberapa kawasan di Timur Tengah.

Tentu saja semua itu harus dilakukan dalam koridor hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku tanpa mengesampingkan hak-hak asasi manusia. (SFA)

Sumber: GeoTimes

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Benih Jagung

Di satu desa di Osaka, Jepang, terdapat seorg petani yang menanam jagung2 unggulan & seringkali memenangkan penghargaan tingkat Nasional dengan kategori : _Jagung Terbaik Sepanjang Musim_*

_Suatu hari, seorang wartawan dari koran lokal melakukan wawancara untuk menggali rahasia Kesuksesan Petani Tersebut._

*_Wartawan itu menemukan bahwa ternyata Petani itu selalu Membagikan Benih Jagungnya kepada para Tetangganya._*

_”Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda, lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama setiap tahunnya?”_
_tanya wartawan, dengan penuh rasa heran & takjub._

_”Tidakkah Anda mengetahui bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah & membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain._

_Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang._

_Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, maka saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus_ jawab si Petani itu.

Petani ini sangat menyadari hukum _*”Saling Berhubungan” ( law Of Attraction)*_ dalam Kehidupan.

_Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya,_
_Jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama._
Itulah sebabnya sang petani memberi benih Kualitas Terbaik kepada para Tetangganya

Bukan malah memberi Benih Buruk dan Cacat untuk mempermainkan dan mengakali para Tetangganya

*_Dalam kehidupan ini,_*

_Jika kita ingin Menikmati Kebaikan, kita harus memulai dengan Menabur Kebaikan kepada Orang Orang di Sekitar Kita._

_Jika kita ingin Bahagia, maka kita harus Menabur Kebahagiaan Untuk Orang Lain._

_Jika kita ingin hidup dengan Kemakmuran, maka kita harus berupaya pula untuk meningkatkan Taraf Hidup Orang Orang di Sekitar Kita._

*_Sebaliknya, jika kita menebar Keburukan dan Kejelekan kepada orang Orang di Sekitar Kita,_*

*_Maka percayalah, Keburukan dan Kejelekan itu niscaya akan Menyelimuti Hidup kita._*

Kita tidak akan mungkin menjadi Pribadi yang Sukses, jika kita tidak berhasil menabur dan Menebar Kebaikan pada orang orang di sekitar kita.

*Kualitas Kita Ditentukan Oleh Orang-Orang di Sekitar.*

_Orang yang Cerdas itu Sejatinya adalah orang yang Mencerdaskan Orang Lain,_

_Begitu pula orang yang Baik adalah orang yang mau berbuat Baik utk Orang lain._

*Menjadi orang penting itu Baik, tapi menjadi orang baik itu lebih Penting.*

_Semoga kita dapat terus berupaya untuk:_

_- Berhati Bersih dan Mulia tanpa mempermainkan orang lain dan menggunakan Akal Licik,_

_- *Berpikiran jernih*,_
_- *Berkata baik, dan*_
_- *Berperilaku positif*,_
_- *Memberi yg terbaik*._

Mat Hari Minggu …

Posted in Uncategorized | Leave a comment