BAGAIMANA menjual SISIR PADA ORANG yang BOTAK

botak

BAGAIMANA menjual SISIR PADA ORANG yang BOTAK

Sebuah perusahaan membuat tes terhadap 3 calon staf penjual barunya. Tesnya unik, yaitu: Menjual sisir di komplek Biara Shaolin!. Tentu saja, ini cukup unik karena para biksu di sana semuanya gundul dan tak butuh sisir.

Kesulitan ini juga yg membuat calon pertama hanya mampu menjual satu sisir. Itupun karena belas kasihan seorang biksu yg iba melihatnya.

Tapi, tidak dengαn calon kedua. Ia berhasil menjual 10 sisir, ia tidak menawarkan kepada para biksu, tetapi kepada para turis yg ada di komplek itu, mengingat angin di sana memang besar sehingga sering membuat rambut jadi awut-awutan.

Lalu bagaimana dgn calon ketiga? Ia berhasil menjual 500 sisir..!! Caranya? Ia menemui kepala biara. Ia lalu meyakinkan jika sisir ini bisa jadi souvenir bagus untuk komplek biara tsb. Kepala biara bisa membubuhkan tanda tangan di atas sisir2 tsb dan…

menjadikannya souvenir para turis. Sang kepala biara pun setuju. Apa yg sering kita anggap sbg penghambat terbesar dlm usaha atau karier? Bukankah kita sering kali menyalahkan keadaan? Dan inilah yg membuat calon pertama gagal.

Sementara calon kedua, sudah berpikir lebih maju. Namun ia masih terpaku pada fungsi sisir yang hanya sbg alat merapikan rambut.

Tapi calon ketiga sudah berani berfikir di luar kotak ( THINKING OUT OF THE BOX ), berfikir diluar kelaziman. Dia bukan hanya berani berpikir bahwa sisir bukan hanya alat merapikan rambut, melainkan bisa menjadi souvenir.

Kita tidak bisa mengatur situasi seperti yang kita kehendaki. Tapi, kita bisa mengerahkan segenap potensi kita untuk mencari solusi. “Segenap potensi” bukan hanya terbatas otot atau kerja keras, tapi juga pikiran, ilmu, intuisi dan kerja cerdas. Pendek kata, kreatifitas akal, ketekunan dan kesabaran . Itulah potensi dalam diri kita yang dapat dipergunakan… LUAR BIASA!!!

Sumber: online,  diposting oleh Helmi F Wandara (Via Update Status Media Sosial FB)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Teologi kemakmuran

Teologi kemakmuran

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
moneySampul buku Health, Wealth and Happiness karya David Jones,Russell Woodbridge

Teologi kemakmuran atau doktrin kemakmuran (bahasa Inggris: prosperity theology atau prosperity gospel), yang kadang-kadang disebut pula teologi sukses, adalah teologi Kristen yang mengajarkan bahwa kemakmuran dan sukses (kaya, berhasil, dan sehat sempurna) adalah tanda-tanda eksternal dari Allah untuk orang-orang yang dikasihinya.[1] Kasih Allah ini diperoleh sebagai sesuatu takdir (predestinasi), atau diberikan sebagai ganjaran untuk doa atau jasa-jasa baik yang dibuat oleh seseorang.[1] Sementara itu, penebusan dosa (yang dalam Kristen dilakukan melalui Yesus Kristus) yang dilakukan Allah bertujuan untuk memberikan berkat kesuksesan dan kesehatan.[1]

Teologi kemakmuran merupakan salah satu teologi dalam Gerakan Kharismatik, selain ciri lain yang menekankan gerakan roh (setiap orang bisa dipenuhi Roh Kudus dengan tanda-tanda tertentu dalam hidupnya).[2] Teologi kemakmuran adalah ajaran tentang kesempurnaan hidup bagi setiap orang beriman dalam hal ekonomi dan kesehatan.[2] Dalam hal ekonomi, teologinya disebut sebagai “teologi sukses,” yang bercirikan pada kesuksesan.[2] Teologi ini meyakini bahwa seorang Kristen yang diberkati adalah mereka yang sukses dalam hidupnya. Dalam kesehatan, seseorang yang diberkati Allah selalu sehat dan sempurna hidupnya, tidak ada cacat, mempunyai kemampuan kesembuhan ilahi. Teologi ini secara sederhana dapat disebut sebagai ajaran yang menekankan bahwa Allah adalah Allah yang Mahabesar, kaya, penuh berkat dan manusia yang beriman pasti akan mengalami kehidupan yang penuh berkat pula, kaya, sukses dan berkelimpahan.[2]

Selain itu, sering sekali pengajarannya menonjolkan persembahan atau perpuluhan sebagai wujud investasi kepada Tuhan, seperti yang terdapat dalam Kitab Maleakhi 3:10.[2] Ayat ini seringkali dirujuk dalam teologi kemakmuran guna mengumpulkan persembahan di gereja. Umat yang meyakini pengajaran ini biasanya memberikan persembahannya dengan harapan akan mendapat berkat dari Tuhan lebih lagi. Hal lain, dikatakan oleh Ron L. Jones, adalah Tuhan dipahami lebih mirip mesin ATM; manusia dapat memperoleh uang sebanyak-banyaknya dari Tuhan yang mencintai anak-anak-Nya dan memberikan hadiah kepada mereka. Persembahan perpuluhan dari hasil setiap umat dianggap dapat membuka ‘pintu surga‘ untuk menurunkan berkat yang berlimpah.[1]

 

Aliran Gereja-Gereja dengan Teologi Kemakmuran

Teologi Kemakmuran diusung oleh Gerakan Karismatik yang merupakan aliran neo-pentakostal (ajaran baru yang meneruskan tradisi pentakostal).[3] Hal ini berlangsung pada tahun 1960an.[3] Jika dilihat dari awal mula kemunculannya, dapat dimaklumi bahwa para pendirinya pun dari kalangan orang-orang kaya.[3] Mereka memiliki misi untuk memyebarkan ajarannya kepada orang-orang yang bukan pentakostal.[3]

Teologi Kemakmuran adalah bagian yang cukup umum dari televangelis dan beberapa gereja Pentakostal di Amerika Serikat yang mengklaim bahwa Allah menginginkan agar orang Kristen sukses dalam segala hal, khususnya dalam segi keuangan mereka.[3] Gerakan ‘Baptisan Roh’ di sejumlah Gereja Episkopal St, Mark di kota kecil Van Nuys di California disebut-sebut sebagai pemicu munculnya gerakan ini.[3] Para penganjur dogma ini mengklaim bahwa tujuannya adalah untuk pekerjaan misi atau mendanai pemberitaan Injil di seluruh dunia.[2] Ajaran mereka didasarkan pada beberapa ayat di Alkitab dan salah satunya adalah Ulangan 8:18 yang mengatakan: “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.”[4] Seorang penulis buku (David Jones) menganggap hal ini adalah kemasan Alkitab yang baru, yang menyesatkan.[4]

Tokoh-Tokoh Teologi Kemakmuran

Beberapa penginjil di Amerika Serikat yang menganut teologi kemakmuran antara lain adalah Kenneth Copeland, Benny Hinn, Nasir Saddiki, Robert Tilton, T.D. Jakes, Paul Crouch, Joel Osteen, dan Peter Popoff.[1] Pat Robertson menyebut teorinya ini sebagai “Hukum Timbal-Balik” dalam acaranya TV-nya, The 700 Club.[2]

Akan tetapi, apa pun pandangan yang dilontarkan oleh kedua belah pihak mengenai kemakmuran, setiap orang Kristen harus kembali melandaskan semuanya itu pada Alkitab, yang dipercaya oleh semua orang Kristen sebagai Firman Tuhan yang hidup.[3] Allah akan memberkati dan memberikan harta kekayaan yang sejati untuk setiap orang percaya yang takut akan Allah dan taat berjalan dalam Firman-Nya (Mazmur 112:1-10).[4]

Di beberapa negara, tokoh-tokoh Gerakan ini sangat mempengaruhi perkembangannya, sosok pemimpin gerakan ini biasanya berkarisma sehingga cepat mendapatkan banyak pengikut.[2] Di Indonesia sendiri bisa dilihat dari penterjemah dari buku-buku di bagian pengaruh

Pengajaran yang khas dari para pendeta ini adalah klaim bahwa mereka telah bertemu dengan Yesus dan Roh Kudus, dan menyatakan diri bahwa mereka diutus untuk memberitakan Injil kemakmuran kepada jemaat.[5] Dengan Injil Kemakmuran yang mereka beritakan, jemaat merasa sebagai orang yang dipilih untuk mendapat pengajaran khusus dari Tuhan. Kennet Hagin salah satunya yang mengklaim diri sebagai orang yang mendapatkan mandat dari Tuhan untuk menyampaikan pesan kepada Jemaat.[5]

Kritik terhadap Teologi Kemakmuran

Para pengkritik teologi kemakmuran mengklaim bahwa doktrin itu digunakan oleh para pemberitanya untuk memetik keuntungan. Mereka juga mengatakan bawah bahwa fokus doktrin itu pada kekayaan materi adalah keliru Mereka berpendapat bahwa kekayaan materi justru bisa membuat orang percaya jatuh ke dalam rasa cinta akan uang.[1][2] Ada juga yang menyatakan teologi ini adalah sebagai ajaran sesat.[1]

Andar Ismail pernah mengatakan bahwa pengajaran yang dilakukan para tokoh gereja (Pendeta dan pekabar Injil) seharusnya tidak mengedepankan hal-hal materi untuk memperkaya gereja maupun pemberitanya.[6] Ajaran ini merupakan pencarian keuntungan dari penderitaan Yesus di kayu salib, para penganjur teologi kemakmuran mencari ‘menjual’ kematian Kristus dengan maksud mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya di gereja.[4][6] Para pengajar atau pendeta teologi kemakmuran dianggap sebagai korupsi atas penebusan yang dilakukan Yesus di kayu salib. Pandangan yang terlalu sembrono mengkaitkan tujuan penebusan Allah melalui Yesus dengan dunia materi atau kekayaan.[4]

Paul Enns juga menolak keras ajaran teologi ini. Ajaran ini dianggap sebagai ajaran di luar Alkitab, mengotori Alkitab, bukan bagian dari warisa kekristenan, dan bukan Kristen.[5]

Pengaruh

Pada abad XIX, khususnya pada pasca-Perang Dunia II, gerakan kharismatik ini mengalami kejayaan. Amerika mengalami perkembangan dalam industri dan berkelimpahan materi. Namun kekosongan spiritual juga tidak bisa diabaikan, sehingga gerakan kharismatik mudah sekali disukai orang. Salah satu sebabnya adalah karena teologi ini juga mengajarkan teologi sukses.[2]

Di Korea Selatan gerakan kharismatik dengan teologi kemakmuran ini sangat besar. Diawali dengan berakhirnya Perang Korea (1950), gerakan in masuk melalui Seminar Pertumbuhan Gereja yang didakan di gereja Yoido Full Gospel Church. Bahkan penyebarannya sudah memasuki acara-acara dalam beberapa media, TV, dan promosi lainnya.[2]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Belajar dari 5 Ekor Monyet

Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh para profesor di USA, ada 2 ekor monyet yang dimasukkan ke dalam satu ruangan kosong secara bersama-2. Kita sebut saja monyet tersebut Monyet A dan B. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah tiang, dan diatas tiang tersebut nampak beberapa pisang yang sudah matang. Apa yang akan dilakukan oleh 2 monyet tersebut menurut anda ?

Setelah membiasakan diri dengan keadaan lingkungan di dalam ruangan tersebut, mereka mulai mencoba meraih pisang-2 tersebut. Monyet A yang mula-2 mencoba mendaki tiang. Begitu monyet A berada di tengah tiang, sang profesor menyemprotkan air kepadanya, sehingga terpleset dan jatuh. Monyet A mencoba lagi, dan disemprot, jatuh lagi, demikian berkali-2 sampai akhirnya monyet A menyerah. Giliran berikutnya monyet B yang mencoba, mengalami kejadian serupa, dan akhirnya menyerah pula.

Berikutnya ke dalam ruangan dimasukkan monyet C. Yang menarik adalah, para profesor tidak akan lagi menyemprot para monyet jika mereka naik. Begitu si monyet C mulai menyentuh tiang, dia langsung ditarik oleh monyet A dan B. Mereka berusaha mencegah, agar monyet C tidak mengalami `kesialan? seperti mereka. Karena dicegah terus dan diberi nasehat tentang bahayanya bila mencoba memanjat keatas, monyet C akhirnya takut juga dan tidak pernah memanjat lagi.

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh para profesor adalah mengeluarkan monyet A dan B, serta memasukkan monyet D dan E. Sama seperti monyet-2 sebelumnya, monyet D dan E juga tertarik dengan pisang diatas tiang dan mencoba memanjatnya. Monyet C secara spontan langsung mencegah keduanya agar tidak naik. ?Hai, mengapa kami tidak boleh naik ?? protes keduanya?.

Ada teman-2 yang memberitahu saya, bahwa naik ke atas itu berbahaya. Saya juga tidak tahu, ada apa di atas, tapi lebih baik cari aman saja, jangan keatas deh? jelas monyet C.

Monyet D percaya dan tidak berani naik, tapi tidak demikian dengan monyet E yang memang bandel. ?Saya ingin tahu, bahaya seperti apa sih, yang ada di atas ? Dan kalau ada bahaya, masak iya saya tidak bisa menghindarinya ?? tegas monyet E. Walaupun sudah dicegah oleh monyet C dan D, monyet E nekad naik ?

Dan karena memang sudah tidak disemprot lagi, monyet E bisa meraih pisang yang d iinginkannya?..

***

Renungan:

Manakah diantara karakter diatas yang menggambarkan tingkah laku anda saat ini ?

Karakter A dan B adalah orang yang pernah melakukan sesuatu, dan gagal. Karena itu mereka kapok, tidak akan mengulanginya lagi, dan berusaha mengajarkan ke orang lain tentang kegagalan tersebut. Mereka tidak ingin orang lain juga gagal seperti mereka. Karakter C dan D, adalah orang yang menerima petunjuk dari orang lain, hal-2 apa yang tidak boleh dilakukan, dan mereka mematuhinya tanpa berani mencobanya sendiri. Karakter E adalah type orang yang tidak mudah percaya dengan sesuatu, sebelum mereka mencobanya sendiri. Mereka juga berani menentang arus dan menanggung resiko asalkan bisa mencapai keinginan mereka.

Pisang dalam cerita diatas menggambarkan impian kita. Setiap orang dalam hidup ini mempunyai impian yang tinggi tentang masa depannya. Namun sayangnya, banyak sekali hal-hal yang terjadi di sekitar kita, yang menyebabkan impian kita terkubur. Orang-2 dengan karakter ABCD akan mengatakan kepada kita hal-2 seperti ini?,Sudahlah, jangan melakukan pekerjaan yang sia-2 seperti itu. Percuma. Saya dulu sudah pernah melakukannya berkali-2 dan gagal. Sebagai seorang teman yang baik, saya tidak mau kamu gagal seperti saya? atau mungkin kalimat ?Kamu mau gagal kayak si X ? lebih baik lakukan sesuatu yang pasti-pasti saja deh?. Bukankah hal-2 seperti itu yang sering kita dengar sehari-2 ?

Orang dengan karakter E akan selalu berpikir optimis dalam menjalankan sesuatu. ?Kalaupun orang lain gagal melakukan sesuatu, belum tentu saya juga akan gagal? adalah kekuatan yang selalu memompa motivasinya.

Dan kegagalan orang lain dapat dipelajari dan dijadikan batu loncatan untuk melangkah lebih baik, bukannya dijadikan suatu ketakutan.

Nah, saya akan memberikan satu ilustrasi lagi. Saya akan membawa anda ke tahun 70-an. Apa yang akan anda lakukan, bila suatu hari ada seorang mahasiswa bercelana jeans, kacamata tebal, bertampang culun, bajunya lusuh, datang menemui anda dan berkata ?Saya punya suatu produk yang bagus, tapi saya tidak punya modal. Mau gak pinjamin saya modal 100 dollar ? Kalau produk ini sukses, kita berdua bakal jadi orang paling kaya di dunia lho?.

Hampir semua akan menghina dan mentertawakan mahasiswa tsb, bahkan mungkin menganggapnya gila.

Berapa orang yang akan menjawab ?Wow, bagus sekali, coba jelaskan apa rencana anda, agar kita bisa sama-2 kaya ?? Mungkin satu orang diantara sejuta, mungkin juga tidak ada.

Bagaimana kalau saya katakan bahwa mahasiswa tersebut adalah Bill Gates, yang kini sudah mencapai impiannya menjadi orang terkaya di dunia ?

Bukankah itu dulu yang dilakukan Bill Gates pada awal karirnya . Dikelilingi orang type ABCD, ditolak, dilecehkan, dan berbagai macam hinaan lainnya. Untungnya, Bill Gates termasuk orang dengan karakter E. Dan dengan pengorbanan dan kerja keras, dia berhasil meraih impiannya.

“Jangan biarkan orang lain membunuh impian anda. Maju terus, hadapi semua rintangan dan raih impian anda.”

Sumber: http://www.nomor1.com/5-ekor-monyet.htm

Posted in Uncategorized | 1 Comment

MEWUJUDKAN KEADILAN DALAM BERGEREJA

MEWUJUDKAN KEADILAN DALAM BERGEREJA

(Sebuah Kajian Humaniora)

 

Oleh

[i]Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, MA.

Menurut Plato, keadilan dimaknai sebagai seseorang membatasi dirinya pada kerja dan tempat dalam hidupnya disesuaikan dengan panggilan kecakapan “talenta” dan kesanggupan atau kemampuannya. Keadilan diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dapat dikatakan adil adalah seseorang yang mampu mengendalikan diri dan perasaannya oleh akalnya (Plato 427-347 SM). Jauh sebelum lahirnya demokrasi modern, konsep keadilan telah lama berkembang dan hingga saat ini belum pernah terwujud secara sempurna, termasuk dalam kehidupan bergereja.

Menurut Plato, untuk mewujudkan keadilan adalah dengan cara mengembalikan masyarakat pada struktur aslinya, dimana metode untuk mewujudkan keadilan ini adalah dengan mengembalikan masyarakat pada struktur aslinya, misalnya jika seseorang sebagai guru baiklah tugasnya hanya mengajar saja, jika seseorang sebagai prajurit baiklah tugasnya hanya menjaga kedaulatan negara, jika seseorang sebagai pedagang baiklah tugasnya hanya dibidang perniagaan saja. Jika seseorang sebagai gubernur atau presiden baiklah tugasnya hanya untuk memimpin negara dengan adil dan bijaksana. Pendapat ini sejalan dengan Roma 12:7 yakni: “Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar”, bukan dibolakbalik atau dicampuradukkan.

Metode berikutnya adalah Gereja sebagai organisasi dapat melakukan pengawasan terhadap fungsi struktur organisasi gereja untuk mengembalikan jemaat pada struktur aslinya sehingga mampu menciptakan stabilitas, dan tidak terjadinya penyimpangan struktur organisasi. Pada keadaan demikian, keadilan bukan mengenai hubungan antara individu, melainkan hubungan antara individu dengan organisasinya. Ada istilah yang lahir dalam kehidupan bergereja yakni “Organisasi gereja adalah tempat untuk memberi, bukan untuk menerima. Ada juga motto yang berkembang di USA yakni “jangan tanyakan apa yang dapat diberikan gerejamu kepadamu, namun tanyakan!, apa yang dapat engkau berikan kepada gerejamu?” artinya kekaryaan dan karya seseorang harusnya dapat dipersembahkan untuk gereja sesuai dengan karya talenta dan karunia hidupnya. Konsep ini sejalan dengan Roma 12:1 yang berbunyi “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”.

Gereja yang hidup adalah gereja yang jemaat-jemaatnya mampu menjadi berkat dan terang bagi sesamanya, namun demikian peran pemimpin juga sangat menentukan kehidupan bergereja. Keadilan dapat juga diwujudkan dengan memilih pemimpin dari putra terbaik dalam masyarakat gereja, sebaiknya tidak dilakukannya melalui pemilihan langsung atau “voting”, melainkan dengan kesepakatan tertentu sehingga dapat ditentukan pemimpin yang benar-benar “manusia super” dari masyarakat tersebut, yang juga berarti yang memimpin gereja seharusnya manusia super “the king of philosopher” karena keadilan juga dipahami secara metafisis keberadaannya tidak dapat diamati oleh manusia. Konsep ini mengakibatnya terjadi pergeseran konsep keadilan kepada dunia lain di luar pengalaman manusia, dan akal manusia yang esensial bagi keadilan yang harus tunduk pada cara-cara Tuhan yang keputusanNya berlaku absolute atau tidak bisa diubah dan tidak bisa diduga. Ayat yang tepat untuk melihat konsep ini adalah Kisah Para Rasul 14:23 yang berbunyi “Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka”. Sangat jelas dikatakan, bukan memilih/voting tetapi menetapkan. Tentu saja penetapan seorang pemimpin, apalagi seorang pemimpin gereja mesti harus tetap berpadanan dengan Tata Gereja yang semestinya berpadanan juga dengan Alkitab sebagai hukum yang dapat dipertanggungjawabkan secara sorgawi maupun duniawi.

Bagaimana keadaan kehidupan masyarakat gereja yang adil?. Keadaan kehidupan masyarakat yang adil akan terlihat jika struktur yang ada dalam masyarakatnya dapat menjalankan fungsinya masing-masing, dan elemen-elemen prinsipal dalam masyarakat tetap dapat dipertahankan, elemen-elemen dasar tersebut adalah: (1) adanya pemilahan tugas dan fungsi yang tegas dalam masyarakat gereja, para pemimpin dalam masyarakat harus diisi oleh orang-orang yang memiliki kecakapan untuk menjadi pemimpin dan kesanggupan untuk memimpin dengan adil. (2) adanya pengawasan yang ketat atas dominasi serta kolektivitas kepentingan-kepentingan kelompok tertentu dalam masyarakat gereja sehingga fungsi-fungsi masyarakat gereja tetap berjalan sesuai struktur aslinya. (3) kelompok pada golongan penguasa (rohaniawan) tidak berpartisipasi atau turut campur dalam aktivitas perekonomian, terutama dalam mencari penghasilan, namun kelompok tersebut tetap memiliki otoritas yang kuat atas semua tri panggilan gereja, sehingga  dalam hal ini gereja harus “self-sufficient” atau mandiri jika tidak demikian, para rohaniawan akan bergantung pada para pedagang atau justru para rohaniawan itu sendiri menjadi pedagang. (4) Harus ada sensor terhadap semua aktivitas intelektual kelas rohaniawan, dan propaganda terus-menerus untuk menyeragamkan pikiran-pikiran mereka sehingga kesatuan dalam masyarakat gereja tetap dapat dipertahankan artinya kontrol sosial berjalan dengan baik.

Untuk apa seseorang mesti bergereja?. Satu jawabannya adalah untuk mencapai tujuan akhir. Menurut Aristoteles (384-322 BC), tujuan tertinggi sebagai makna terakhir hidup manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia) karena apabila sudah bahagia, seseorang tidak memerlukan apa-apa lagi. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang baik pada dirinya sendiri. Kebahagiaan akan bernilai bukan karena demi nilai lain yang lebih tinggi, melainkan karena demi dirinya sendiri. Semua tujuan yang lain bermuara pada kebahagiaan sebagai tujuan terakhir. Keadaan manusia yang telah mencapai tujuan akhir adalah mereka telah memiliki kebijaksanaan, hidup sempurna dengan mencintai kebenaran-kebenaran abadi, mampu merasakan cukup dalam sagala hal atau tidak rakus dan tamak. Unsur kebijaksanaan adalah unsur tujuan akhir yang paling utama. Keadaan manusia yang hidup dalam berkeutamaan ”arete” mampu bertindak adil dan berani, melakukan tindakan yang telah dijanjikan atau ”satya wacana”  dan melaksanakan kewajiban sesuai dan berkaitan dengan janji serta melakukan semua tindakan yang harus dapat dipertanggungjawabkan. Unsur berkeutamaan adalah unsur kedua dalam tujuan akhir manusia.

Kehidupan bergereja yang menjadi berkat dan terang adalah tatkala jemaatnya hidup mampu merasakan kenikmatan atau rasa senang, karena menikmati rasa senang merupakan buah hasil hidup berkeutamaan artinya orang yang baik akan senang hidupnya. Unsur rasa senang adalah unsur ketiga dari tujuan akhir hidup manusia. Keadaan jemaat yang hidup memiliki banyak sahabat, sehat jasmani dan rohani atau tidak sakit-sakitan, memiliki kekayaan yang cukup (jika orang hidup dalam kemiskinan maka tidak bahagia), dan keadaan manusia yang telah mencapai tujuan akhir juga ditunjukkan bahwa manusia tersebut dipenuhi keberuntungan serta nasib baik dan selanjutnya unsur ini disebutkan sebagai unsur turunan atau tambahan dari tiga unsur lain  di atas yakni, kebijaksanaan, berkeutamaan, dan rasa bahagia (sukacita).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tidak mampu mewujudkan tujuan akhir tatkala seseorang: (1) memiliki ambisi yang berlebihan: karena tujuan akhir manusia adalah kebahagiaan, dan kebahagiaan tersebut terpusat pada diri sendiri dan sangat subyektif serta bersifat relatif bagi setiap manusia, jika manusia tidak mampu mengontrol ambisi diri yang berlebeihan maka seseorang tidak mampu bersikap adil, selalu merasa kurang, tidak pernah merasa puas diri, dan akhirnya seseorang manjadi sangat rakus dan tamak dan pastinya dia tidak akan mendapatkan kebijaksanaan tersebut. Artinya jika penafsiran kebahagiaan bersifat subyektif maka manusia tidak mencapai tujuan akhir kebahagiaan karena mereka tidak pernah ”merasa” bahagia. (2) terlalu mementingkan diri sendiri: kebahagiaan ala Arestoteles, menurutnya dapat dicapai pada saat manusia masih hidup dan sifat dari kebahagiaan tersebut bersifat amanen atau duniawi. Kontemplasi dalam pemikiran Aristoteles tidak berarti pertemuan atau persatuan dengan sesuatu di luar atau di atas manusia, melainkan pemenuhan bakat atau kemampuan manusia yang paling tinggi, kemampuannya untuk melakukan kegiatan yang sifatnya mencukupi pada dirinya sendiri (self-sufficient) artinya seseorang bisa terjebak pada hal-hal yang bersifat mementingkan diri sendiri untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut, jika manusia terjebak pada sifat mementingkan diri sendiri seseorang akan dengan mudah tidak memenuhi janji-janji yang pernah dikontrakkan atau  dikrarkan dan cenderung berpihak pada hal-hal yang dapat menguntungkan dirinya sendiri. Pada saat inilah seseorang tidak dapat merasakan kebahagiaan. (3) sakit-sakitan, kurang bisa bergaul, hidup miskin, kurang beruntung: Ironis sekali, Arestoteles memandang kebahagiaan juga dapat digambarkan bahwa seseorang yang sakit-sakitan tidak akan merasa bahagia, orang yang tidak memiliki banyak teman akan merasa tidak bahagia, orang yang kehidupannya miskin tidak akan merasa bahagia, dan seseorang yang sering mendapat musibah atau bencana atau kurang beruntung dianggap tidak akan merasa bahagia. Artinya tujuan akhir manusia tidak akan tercapai jika mereka sakit-sakitan, tidak banyak teman, miskin, atau bernasib buruk karena dalam kondisi seperti ini tidak mungkin seseorang merasa bahagia. Bagian ketiga dari tujuan akhir ini mungkin dapat menimbulkan perdebatan yang sengit, namun ini adalah sebuah kenyataan yang telah ada sejak manusia ini dijadikan. Konsep ini telah melahirkan beberapa motto hidup seperti misalnya “uang bukan segala-galanya, namun segala-galanya perlu uang”, “teman adalah orang yang selalu ada pada kesulitan yang kita alami”, “seseorang yang berlimpah harta bendanya dapat membeli obat bahkan rumah sakit semahal apapun, namun dia tidak pernah mampu membeli kesehatan itu”.

Peran gereja kekinian semestinya dapat diarahkan untuk mewujudkan keadilan bermasyarakat gerejanya walaupun gereja itu sendiri tidak pernah mendapatkan keadilan dari masyarakat yang heterogen ini. Makna lainnya adalah bahwa gereja tidak gampang meniru cara-cara duniawi untuk mengatur tatakelola kehidupan bergereja. Untuk dapat mewujudkan kehidupan bergereja yang adil, semestinya pemimpinnya adalah seseorang yang tidak memiliki ambisi yang berlebihan, tidak mementingkan diri sendiri atau golongannya, dan juga sehat secara jasmani, mental, dan rohani pastinya. Alangkah baiknya jika kehendak sorgawi dapat tercapai dan terwujud dalam kehidupan bergereja seperti doa yang setiap hari kita ucapkan “jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga”. Struktur masyarakat gereja yang mengerti dan menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan talenta dan karunia, sesuai dengan tugas panggilan yang diberikan baik secara formal maupun informal. Tulisan ini tidak memiliki tendensi pada objek dan subjek seseorang tetapi menyajikan sebuah konsep keadilan yang telah lama dilupakan dalam usaha untuk mewujudkan makna sebuah keadilan dalam kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat.

 

[i] Penulis adalah Dosen Tetap pada Fakultas Ekonomika dan Humaniora dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Dhyana Pura, berdomisili di Desa Sading, Mengwi, Badung. dan berjemaat di GKPB Jemaat Kudus Sading.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pengemis Yang Serakah

Alkisah ada seorang pengemis yang setiap hari berkeliaran di jalanan. Dia selalu berpikir, betapa senangnya jika di tangannya ada uang 20 juta.

Suatu hari pengemis ini tanpa sengaja, melihat seekor anjing kecil yang lucu. Ia melihat di sekelilingnya tidak ada seorangpun, lalu ia mengendong anjing kecil ini pulang ke gubuknya dan mengikatnya.

Rupanya pemilik anjing adalah orang paling kaya di kota tersebut. Orang kaya ini sangat panik, karena anjing tersebut sangat disayanginya.

Lalu orang kaya ini membuat pengumuman di stasiun TV di kota tersebut, bahwa “Siapa yang menemukan anjingnya akan diberi hadiah 20 juta.”

Keesokan harinya ketika pengemis ini keluar untuk mengemis, melihat pengumuman tersebut, si pengemis tergesa-gesa pulang ke rumahnya untuk menukar anjing tersebut dengan uang.

Ketika dia menggendong anjing itu ke stasiun TV, dia melihat pengumuman hadiah berubah menjadi 30 juta, karena orang kaya ini belum dapat menemukan anjingnya.

Langkah kaki pengemis itu berhenti, setelah dipikir-pikir akhirnya dia menggendong anjingnya kembali ke gubuknya.

Hari ke 3,
benar saja hadiahnya bertambah lagi…

Hari ke 4,
hadiah bertambah lagi….

Hari yang ke 7,
hadiahnya sudah sangat menggagetkan seluruh penduduk kota.

Pada saat itu pengemis tersebut lari pulang ke gubuknya, untuk mengambil anjing itu, tapi di luar dugaan anjing kecil itu sudah mati kelaparan.

Pengemis itu tetaplah jadi pengemis.

Sebenarnya di dalam kehidupan, banyak kesempatan bagus, bukan karena kita tidak berjodoh mendapatkannya, tetapi harapan kita yang terlampau tinggi.

Ketika kita sudah hampir mendekati sebuah target, terkadang kita akan mengubah arah mendekati target yang lebih tinggi lagi.

KESEMPATAN TERBAIK ADALAH YANG HADIR SAAT INI DI DEPAN MATA, JANGAN TERUS MENUNGGU YANG TIDAK AKAN DATANG.

Sumber: http://www.nomor1.com

Posted in Renungan | Leave a comment

Berkat yang Retak

Berikut ini adalah cerita bijak dari Cina, sebagai bahan renungan

Seorang ibu di Cina yang sudah tua memiliki dua buah tempayan yang digunakan untuk mencari air, yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu.

Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tanpa cela dan selalu memuat air hingga penuh.

Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal separuh.

Selama dua tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana ibu itu membawa pulang air hanya satu setengah tempayan.

Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya.

Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya dan sedih sebab hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.

Setelah 2 tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya dia berbicara kepada ibu tua itu di dekat sungai.

“Aku malu, sebab air bocor melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu.”

Ibu itu tersenyum, “Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya?

Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu.

Selama dua tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja.

Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak seasri seperti ini sebab tidak ada bunga.”

Kita semua mempunyai kekurangan masing-masing …

Namun keretakan dan kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan dan memuaskan.

Kita harus menerima setiap orang apa adanya dan mencari yang terbaik dalam diri mereka.

Rekan-rekan sesama tempayan yang retak, semoga hari kalian menyenangkan.

Jangan lupa mencium wanginya bunga-bunga di jalur kalian.

Luangkanlah waktu untuk mengirimkan pesan ini kepada semua rekan yang juga seperti tempayan yang retak ini …

Tuhan tahu ada berapa dan siapa saja mereka!!!

Posted in Berkat yang Retak | 1 Comment

Jangan Berhenti Berbuat Baik

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan
dari pintu ke pintu, menemukan bahwa d ika ntongnya hanya tersisa
beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar.

Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah
berikutnya.
Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda
membuka pintu rumah.
Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas
air.

Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut
pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.
Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, “berapa
saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?”
Wanita itu menjawab: “Kamu tidak perlu membayar apapun”.
“Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk keba ika n” kata
wanita itu menambahkan.
Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata :” Dari dalam
hatiku aku berterima kasih pada anda.”

Sekian belas tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang
sangat kritis.
Para dokter di kota itu sudah tidak sanggup menanganinya.

Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter
spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.
Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan.
Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut,terbersit
seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly.
Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju
kamar si wanita tersebut.

Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu.
Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang.
Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan
upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia
selalu member ika n perhatian khusus pada kasus wanita itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan..
. Wanita itu sembuh !!.
Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh
tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan.
Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar
tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.

Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa
ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil
seumur hidupnya.
Akhirnya Ia memberan ika n diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada
sesuatu yang menarik perhatuannya pada pojok atas lembar tagihan
tersebut.
Ia membaca tulisan yang berbunyi.. “Telah dibayar lunas dengan segelas
besar susu..”
tertanda, DR Howard Kelly.

Air mata kebahagiaan membanjiri matanya.
Ia berdoa: “Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh
bumi melalui hati dan tangan manusia.”

Sekarang terserah anda,anda dapat mengirimkan pesan cinta ini kepada
orang lain, atau aba ika nnya dan berpura-pura bahwa kisah ini tidak
menyentuh hati Anda.–

Posted in Renungan | Tagged | 2 Comments